|
| 26 October 2009 |
| Cicak Ekor Bercabang |
Secara kebetulan kawan saya menemukan seekor cicak yang agak aneh... mempunyai ekor yang bercabang. Andai ada para netter yang berminat dan ingin memiliki cicak tersebut, silakan hubungi saya lewat email berikut : harmailis_chaniago@yahoo.com
|
posted by Harmailis Chaniago @ 2:15 PM   |
|
|
|
| 12 October 2009 |
| Pasca bencana, pengalaman di Aceh,moga tidak berulang di Sumbar |
Artikel dibawah berjudul agak ngeri UangDarah, pengalaman pasca bencana di Aceh,moga tidak berulang di Sumbar.
UANG DARAH
Seorang kawan yang telah bekerja sebagai Program Officer Disaster Management (PO-DM) sejak dua tahun lalu di sebuah INGO, mendadak ingin berhenti dari kerjanya, beberapa hari setelah bencana akibat gempa Sumatera Barat terjadi Rabu (30/09). Dia tersinggung dengan ucapan selamat dari beberapa orang yang menghubunginya. Orang-orang berpikir kehadiran bencana baru, membuka peluang kerja baru. “Dan kalau ada peluang kerja di Padang nanti, tolong ajak saya,” lanjut orang-orang itu tanpa beban. Kini bencana bukan hanya memunculkan solidaritas kemanusiaan dunia. Di mana masyarakat manusia berusaha semampu mereka menggalang dana bantuan pemulihan dan rekontruksi wilayah bencana. Ketika penggalangan dana solidaritas sedang berjalan, saat bersamaan muncul juga ‘para pemburu uang darah’. Uang yang terkumpul karena darah, luka, dan derita sejumlah manusia yang mengalami bencana. Masyarakat Aceh menyaksikan dengan jelas kedua hal itu muncul bersamaan, solidaritas pekerja kemanusiaan dan pemburu uang darah. Keduanya terkadang sulit dibedakan, seperti sulitnya kita menyebut pegawai BRR Aceh-Nias penerima gaji puluhan juta sebagai pekerja kemanusiaan. Karenanya artikel ini berusaha merumuskan konsep pembatas yang membedakan ‘pekerja kemanusiaan’ dengan ‘pemburu uang darah’. Perkara ini menjadi penting, karena berpengaruh pada kebudayaan kita masa kini dalam memperlakukan bencana. Kemunculan solidaritas kemanusiaan dalam konteks bencana awalnya didorong oleh PBB, dengan resolusinya yang dikeluarkan dalam sidang Majelis Umum ke-2018 mengenai Bantuan dalam Situasi Bencana Alam dan Bencana Lainnya pada tanggal 14 Desember 1971. Resolusi ini kemudian ditindaklanjuti dengan Resolusi Nomor 46/182 tahun 1991 mengenai Penguatan Koordinasi Bantuan Kemanusiaan PBB Dalam Hal Bencana (ET Paripurno: 1995). Seruan PBB itu mendapat sambutan dari masyarakat dunia. Pemerintah, kalangan swasta, organisasi massa, lembaga-lembaga filantropi, dan bahkan organisasi mahasiswa memberikan solidaritasnya dalam beragam bentuk. Bencana akibat gempa dan tsunami 2004 yang dialami beberapa negara telah menimbulkan gelombang solidaritas kemanusiaan terdahsyat. Aceh memperoleh bantuan pemulihan dan rekontruksi dalam jumlah terbesar dari sumbangan masyarakat dunia. Seminggu belakangan, Sumatera Barat juga menyita perhatian dunia. Besarnya skala bencana akibat gempa di sana mendorong Uni Eropa membuat komitmen akan memberikan bantuan sebesar 3 juta euro. Hal yang sama dilakukan oleh Pemerintah Amerika Serikat yang segera menyalurkan 300,000 US Dollar dengan dana cadangan 1 juta US dollar. Pemerintah China akan menyalurkan 500,000 US Dollar. Adapun Singapore, Australia, Jepang, dan Rusia memberikan bantuan alat berat dan team medis. Dua hari lalu, Pemerintah Aceh pun memberikan dana tanggap darurat sebesar 500 juta yang disalurkan lansung oleh Wakil Gubernur, bagian dari Rp1,5 miliar bantuan yang akan disalurkan. Belum lagi kita hitung beberapa lembaga filantropi yang telah mengalokasikan dana bantuannya untuk masyarakat Sumatera Barat. Berbagai media massa telah memberitakan hal ini. Pemburu uang darah Namun, pemerintah dan masyarakat Sumatera Barat sebaiknya mempelajari sisi buruk dari pengelolaan dana bantuan kemanusiaan di Aceh. Lalu beberapa kebijakan politik harus dibuat untuk memastikan pengalaman buruk Aceh tidak berulang di Sumatera Barat. Jika bukan karena terdapat sisi buruk dari pengelolaan dana bantuan di Aceh, bagaimana mungkin hingga hari ini masih terdapat ratusan keluarga korban tsunami yang belum mendapat rumah, padahal para pekerja dan pengelola dana bantuan (dengan gaji besar mereka) telah mampu membangun beberapa rumah? Memperkuat hal ini, berikut saya kutip penggalan pandangan Wakil Gubernur Aceh dalam sebuah interview yang saya lakukan tujuh bulan lalu: ”sebagian lembaga donor, biaya operasional mereka di atas 50 %, artinya lebih banyak yang mereka gunakan sendiri daripada dana untuk mendukung pembangunan Aceh setelah tsunami dan konflik. Bahkan ada (tapi tidak banyak) lembaga internasional yang telah berhasil mengumpulkan dana dari rakyat dan pemerintah mereka, tetapi sama sekali tidak disumbangkan untuk masyarakat Aceh.” Bukan hanya lembaga-lembaga internasional non-pemerintah, BRR Aceh-Nias sendiri memberikan gaji pegawainya dari 10 juta per bulan untuk tingkat asisten manajer hingga 60 juta untuk kepala badan itu. Level Direktur dan Deputi memperoleh 20 juta hingga 30 juta. Masyarakat korban tidak pernah diberitahukan berapa persen dana bantuan untuk mereka yang digunakan oleh pihak pengelola dana, 30 % kah atau lebih? Kebijakan menggunakan dana—yang dikumpulkan atas alasan penderitaan sebagian manusia korban bencana—untuk biaya operasional lembaga pengelola dalam jumlah besar bukan saja melanggar prinsip efisiensi, tapi juga mengindikasikan kehadiran nyata para pemburu uang darah di wilayah bencana. Keadaan demikian bertentangan lansung dengan semangat dan prinsip-prinsip kerja kemanusiaan yang mengutamakan volunteerisme. Merujuk dokumen Sphere Project, pekerja kemanusiaan memiliki prinsip-prinsip mulia, selain imparsial non-partisan, juga mengutamakan spirit sukarela dan tidak cari untung di atas penderitaan korban bencana. Sebagian lembaga yang terlibat mempercepat proses pemulihan dan pembangunan kembali masyarakat terkena bencana menaati secara ketat prinsip-prinsip mulia itu. Namun, keberadaan sebagian kecil lembaga pemburu uang darah telah merusak budaya solidaritas kemanusiaan dunia. Perlu Pergub Pemerintah Sumatera Barat harus segera membuat kebijakan untuk menertibkan ’para pemburu uang darah’. Strateginya bisa tidak tunggal, asal efektif. Salah satunya perlu Peraturan Gubernur (Pergub) untuk membatasi jumlah gaji para pekerja di lembaga-lembaga pengelola dana bantuan bencana. Pembatasan besaran gaji pekerja, selain dapat menekan angka persentase biaya operasional lembaga-lembaga bersangkutan, juga dapat memperkuat ulang semangat utama bekerja di wilayah bencana, yakni membantu masyarakat terkena bencana secara maksimal dengan semangat tidak mencari keuntungan material. Peraturan Gubernur tentang Upah Minimum Provinsi (UMP) tentu tidak dapat berlaku, mengingat kecenderungan pengelola dana bantuan menggaji para pekerja mereka jauh di atas UPM. Sepertinya Gubernur Sumatera Barat harus mengeluarkan Upah Maksimum Pekerja Kemanusiaan (UMPK) dalam wilayah bencana. Dengan hal ini, diharapkan keluarga korban dapat menikmati dana bantuan secara maksimal. Oleh Affan Ramli, aktivis Prodeela
|
posted by Harmailis Chaniago @ 2:47 PM   |
|
|
|
| 09 October 2009 |
| MEWASPADAI DATANGNYA MUSIBAH LAIN |
[Al-Islam 475] Sudah lebih dari sepekan lalu ‘Gempa Sumatra’ terjadi. Korban tewas akibat gempa berkekuatan 7.6 skala ritcher itu terus bertambah. Berdasarkan data dari Satkorlak Penanggulangan Bencana Sumatera Barat (4/10), korban tewas berjumlah 603 orang. Kemungkinan korban tewas bisa mencapai 1.000 orang. Korban luka-luka juga terus mengalami peningkatan; yang luka berat sebanyak 412 orang dan luka ringan sebanyak 2.093 orang. Adapun korban yang mengungsi sebanyak 736 orang (Republika Online, 4/10/2009). BACA SELENGKAPNYA DISINI
|
posted by Harmailis Chaniago @ 7:12 AM   |
|
|
|
| 08 September 2009 |
| MENUNTUT ILMU SAMPAI AKHIR HAYAT |
NIKMATNYA MEMBACA
Wahyu yang pertama turun adalah, "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. " (QS. Al-¡¥alaq [96]: 1 )
Teman duduk yang terbaik adalah buku, dan kenikmatan yang paling besar adalah membuka-buka lembaran akal para pemikir. Orang yang dilayani oleh tinta dan pena, akan dipuji oleh mimbar-mimbar manusia. Orang yang berteman dengan lembaran-lembaran kitab, akan meraih kemuliaan. Setiap kali seseorang membaca buku, PASTI akan memperoleh ilmu.
Kekayaan yang paling menguntungkan adalah petikan kebijaksanaan dari lembaran-lembaran kitab. Karena itu, salinlah abjad-abjad pengetahuan ke dalam loh-loh hati Anda. Tulislah baris-baris pengajaran di dalam lembaran-lembaran jiwamu. Celaklah mata Anda dengan ungkapan-ungkapan pengetahuan, agar Anda melihat Kerajaan Langit dan Bumi.
Pada hari Anda menyendiri dengan sebuah buku, zaman terlipat untuk Anda dan masa datang mengunjungi Anda, berbagai pelajaran memanggil, berbagai nasihat merindu, berbagai pengalaman menempa, dan berbagai pesona memikat Anda. Peraslah kilau pengetahuan dari tetek buku-buku, sebab di dalam buku-buku terbentang kerajaan pemikiran. Seorang pemilik buku-buku, bersama buku-bukunya, lebih kaya daripada Qarun-nya harta-harta terpendam, dan lebih baik kondisinya daripada orang-orang Baramikah ( salah satu klan bangsa Persia yang terkenal mulia, mereka menjadi menteri-menteri pada Dinasti Abbasiyah ). Kehidupan orang yang selalu berteman kertas lebih baik daripada kehidupan sang pecandu minuman keras. Orang yang bergelut mempelajari atsar lebih mulia daripada orang yang asyik mendengarkan dentingan gitar.
Penulis buku melindungi Anda dari labirin para raja, menjaga Anda dari kemurkaan para tiran, menaungi Anda dari kebengisan para lalim, melindungi Anda dari : celaan orang-orang yang busuk hati, pemuasan dendam orang yang membenci, pandangan sinis orang yang pelit, pemberian yang disertai hinaan dari orang yang bakhil, kebebalan orang bodoh, kepusingan karena ocehan dan kecerobohan orang yang dungu.
Banyak-banyaklah merenungi buku-buku, biasakanlah memeriksa lembaran-lembaran kitab, dan bersabalah dalam terjaga tidak tidur sampai jauh malam dengan buku, sebab apa harganya waktu tanpa membaca ?
APA FAEDAH USIA TANPA MEMBACA ? DAN, ENAKKAH HIDUP INI TANPA BUKU ?
Manusia datang dan pergi, raja-raja terlupakan, pasar-pasar ramai lalu sepi, rumah-rumah megah lalu melapuk, istana-istana roboh, taman-taman indah meranggas, harta benda musnah, dan tokoh-tokoh terkenal meninggal dunia. Tetapi, hikmah abadi di dalam buku-buku, pengetahuan kekal di dalam lembaran-lembarn kitab, ilmu terpendam di dalam karya-karya, dan warisan pengetahuan terjaga selama-lamanya, kesemua ini tidak akan sirna dengan berlalunya masa.
Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dirham dan dinar, melainkan ilmu. Orang yang mengambilnya, mengambil kebaikan yang sangat banyak.
NIKMAT ILMU PENGETAHUAN
Syaikah M. Abdul Athi Buhairi
Jika kamu menginginkan untuk menjadi pewaris para nabi, memanen di kebun-kebun mereka, maka pelajarilah ilmu yang bermanfaat, sebab di dalam hadits disebutkan, ¡§ Ulama itu pewaris para nabi. ¡§
Dalam hadits disebutkan, Siapa yang meniti jalan mencari ilmu (agama), Allah mudahkan baginya dengan perbuatannya tersebut jalan ke Surga.
Ilmu adalah makanan ruh. Fath A-Mushili berkata, ¡§ Bukankah orang sakit jika dicegah dari makan, minum dan obat dia akan mati ? ¡§ Dijawab, ¡§ Ya. ¡§ Dia berkata; Demikian juga HATI, jika terhalang dari ilmu dan hikmah selama tiga hari HATI akan mati.
Al-Hasan bin Yasar berkata; Kalau bukan karena ulama, pasti manusia akan seperti binatang.
Wahai orang yang dijadikan Allah sebagai manusia, jangan jadikan dirimu dengan sedikitnya ilmu, berlombalah dalam MENINGGIKAN HARGA DIRIMU DENGAN ILMU.
Barangsiapa yang hendak mengetahui derajat ulama dan kemuliaan ilmu, maka hendaklah dia melihat kepada orang yang diistimewakan Allah dengan diperintahkannya para malaikkat untuk bersujud kepadanya, yaitu Nabi Adam Alaihissalam.
Jika seorang pedagang merasa terhibur saat mendengar gemercing dinar atau melihat kilauan emas. Jika orang yang suka permainan dan hiburan bisa menikmati alunan musik dan irama nyayian, maka para ulama dan penuntut ilmu akan merasa terhibur dengan ilmu mereka, sebagaimana yang digambarkan oleh Imam Asy-Syafi¡¦i, dia berkata;
¡§ Begadangku untuk mengkaji ilmu lebih lezat bagiku daripada sampainya seorang wanita cantik dan parfum anaq Goresan penaku di atas lembaran-lembaranny a lebih manis daripada kencan dan bersesraan Lebih nikmat daripada pukulan seorang gadis pada rebana pukulanku untuk mengibaskan pasir dari lembaran kertas Kecenderunganku berhibur untuk menyelesaikan masalah ilmu lebih aku sukai daripada minuman anggur Apakah aku tidur sepanjang malam dan setelah itu mengharapkan kemenganan. ¡§
JANGAN TIDUR DARI ILMU DAN IKATLAH DENGAN TULISAN
Imam Ibnul jauzi tidak pernah tidur dari mencari ilmu Selalu datang kepadanya berbagai inspirasi saat-saat istirahatnya. Jika dia membiarkan inspirasi tersebut berlalu, maka ia pun akan meninggalkannya. Semangatnya yang tinggi mendorongnya untuk bangkit menyibakkan kemauan untuk tidur dan debu kemalasan, memburu inspirasi sebelum ia kabur, dia bangkit untuk mengikatnya sebelum terlepas, sebagai pengamalan dari lantunan syair berikut ini :
¡§ Ilmu itu binatang buruan dan tulisan adalah pengikatnya Ikatlah binatang buruanmu dengan tali yang kuat Adalah kedunguan jika kamu memburu rusa Lalu membiarkannya bebas tanpa diikat. ¡§
Banjir adalah kumpulan dari tetesan air, dan ide demi ide berkumpul hingga menjadi buku yang berharga ¡§ Shaid Al-Khathir. ¡§
Ilmu adalah gunung yang tidak bisa dinaiki kecuali oleh langkah pemikiran. Ilmu adalah langit yang tidak bisa dinaiki kecuali oleh tangga pemahaman. Ilmu adalah bintang yang tidak bisa tersentuh kecuali dengan tangan kesungguhan. Ilmu itu tidak layak kecuali untuk ditanam, tidak ditanam kecuali di dalam jiwa dan tidak disirami kecualai dengan belajar.
Ilmu adalah tujuan yang jauh, tidak dapat diburu dengan panah, tidak bisa dilihat dalam tidur, dan tidak akan diwarisi dari para paman. Ilmu hanya bisa diraih dengan membiasakan begadang, banyak mengkaji, menyibukkan pikiran, terus-menrerus berkelana dan menerjang bahaya.
KIAT MENCARI ILMU yang dikutip dari karangan Dr al-Qarni
Dalam menuntut ilmu ada beberapa kiat dan adab yang mesti diperhatikan dengan baik, yaitu sebagai berikut :
ƒÞ Memiliki semangat yang tinggi yang laksana api berkobar di dalam jiwa dan laksana awan bergerak di angkasa, sehingga segala kesulitan akan terasa mudah dan setiap penderitaan akan terasa nikmat. ƒÞ Merasa asyik dengan ilmu siang dan malam, baik di dalam hati atau dengan bersuara keras, dan menggarapnya sedikit demi sedikit. ƒÞ Rajin mengulang-ulang ilmu di pagi dan sore hari, berdiskusi dengan para guru, baik yang lebih tua atau lebih muda, dan mengajukan pertanyaan kepada mereka seperti orang pesakitan yang meminta wejangan. ƒÞ Mementingkan kualitas, bukan kuantitas. Memulai dengan yang terpenting, lalu yang penting. Menguasai setiap bagian secara sempurna. ƒÞ Menghindari buku-buku yang terlalu detail, yang memberikan terlalu banyak ¡¥cabang¡¦ dan ¡¥ kembang¡¦. Menyenangkan pikiran dengan buku-buku yang sederhana, memantapkan pengetahuan dengan sering berulang. ƒÞ Menghindari buku-buku yang terlalu ringkas, yang isinya seperti teka-teki, karena itu melelahkan pikiran tanpa guna dan menghabiskan waktu tanpa hasil. ƒÞ Memilih bidang keilmuan yang disukai jiwa, karena itu akan terhunjam ke dalam jiwa, mengetahuinya akan menghilangkan kesamaran dan kejenuhan, pemahaman tentangnya akan semakin dalam seiring dengan menguasainya pelajaran. ƒÞ Tidak mementingkan fasilitas dengan mengorbankan tujuan =, tidak berpaling dari ilmu betapapun besarnya godaan yang datang. ƒÞ Banyak beristigfar, agar awan pikiran menurunkan hujan bagai butiran-butiran permata, dan segeralah bertobat apabila melakukan dosa. ƒÞ Yakin bahwa ilmu adalah harta yang paling berharga, teman yang paling baik, penghibur yang paling setia, pedang saat perang berkecamuk, dan tabungan saat isi kantong habis. ƒÞ Keindahan ilmu adalah terletak pada penjagaan diri, buahnya adalah sikap beragama, mahkotanya adalah amanah, pengamalannya adalah bantuan terbesar, dan maksiat adalah pukulan dan penghinaan baginya. ƒÞ Ilmu takkan terpatri kecuali dengan pengajaran, takkan tertanam kecuali dengan pemahaman, takkan bermanfaat kecuali dengan pengamalan, dan orang yang tidak mengagungkannya takkan diagungkan. ƒÞ Tujuan ilmu adalah tunduk kepada Allah Yang Maha Rahman, penyakitnya adalah lupa, kepahitannya adalah kedengkian teman, dan kelaliman padanya adalah kebohongan dan kepalsuan. ƒÞ Kitab-kitab ulama terdahulu adalah kitab yang paling bermanfaat. Buku yang paling mudah bahasanya paling mengena. Karya-karya para imam adalah karya paling indah. Tulisan-tulisan keagamaan adalah tulisan yang paling memukau, paling luhur, dan paling berguna. ƒÞ Buku-buku filsafat sangat rumit. Orang pintar tidak dapat mengambil manfaat darinya, apalagi orang bodoh. Pengarangnya adalah orang yang suka menyusah-nyusahkan dan membantah, dan semuanya terasing dan jauh dari wahyu. ƒÞ Manfaatkan buku-buku tafsir yang memberi kejelasan makna-makna kata dan maksud-maksud ayat, yang menguraikan ungkapan-ungkapan yang asing dan isyarat-isyarat yang halus. ƒÞ Pegang teguhlah hadits al-Mushthafa saw, karena hanya itu sumber keselamatan, tujuan orang-orang yang setia, maksud orang-orang yang jernih, dan mengandung obat, keselamatan, dan kesembuhan. ƒÞ Buku-buku fiqih terbaik adalah yang dikuatkan dalil, menjauhi pertentangan pendapat, menghindari penjelasan yang rumit, dan dikemas dengan bahasa yang indah. ƒÞ Kebanyakan buku Ushul Fiqih melelahkan dan menjemukan. Anda cukup mempelajari kitab Alam al-Muwaqqiin, al-Muwafaqat, dan ar-Risalah, karena buku-buku tersebut mendalam namun mudah dipahami, jelas namun ringkas. ƒÞ Pencari ilmu harus melek terhadap berbagai bidang ilmu, walaupun secara umum, sebab pembicaraan manusia bercabang-cabang dan sangat buruk jika ditanya tentang suatu cabang ilmu, dia berkata, ¡§ Diam, jangan bicara dalam bidang itu. ¡§ ƒÞ Jika sudah mampu menulis buku, ia harus rajin menulis, memilih kata-kata yang lembut, makna yang mulia, dan jangan menulis buku terlalu tebal atau terlalu tipis. ƒÞ Harus banyak membaca, tidak terpalingkan darinya oleh makanan, minuman, keluarga, atau sahabat, sampai ia memetik pengetahuan yang lezat dan matang, dan membelanjakanuang untuk buku tanpa perhitungan. ƒÞ Tidak memforsir tenaga pada bidang-bidang yang tidak penting, seperti menghabiskan umurnya pada masalah tata bahasa yang rumit, puisi atau novel picisan. ƒÞ Dan, ketahuilah, kegemilangan diperoleh dengan akal yang sahih, hafalan yang kuat, dan lisan yang fasih, sebab pemahaman tanpa dukungan hafalan seperti wajah yang tergores luka, hafalan tanpa dukungan pemahaman adalah bagaikan kuali yang bocor, dan hafalan serta pemahaman tanpa dukungan kefasihhan seperti tubuh yang cacat.
Demikian harap apa yang kukutip dari karya Dr al-Qarni dan Syaikh A Buhairi tersebut bisa bermanfaat bagi teman-teman sekalian.
Mohon maaf bila ada penyampaian yang tidak pada tempatnya (dipetik dari diktigroup@yahoogroup..........)..
|
posted by Harmailis Chaniago @ 7:43 AM   |
|
|
|
| 30 August 2009 |
| Institusi Pendidikan Harus Netral Sikapi Gesekan Antarnegara |
SEMARANG--MI: Pemerhati pendidikan Prof Eko Budihardjo menyatakan, institusi pendidikan harus bersikap netral dan jangan sampai terpengaruh dengan adanya gejolak atau gesekan yang terjadi antarnegara.
"Institusi pendidikan merupakan suatu komunitas intelektual, yang akan selalu bertemu dengan sesama komunitas intelektual dari berbagai bangsa dalam berbagai forum sehingga sebaiknya tidak terpengaruh, " katanya di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (27/8).
Ia mengatakan, sebuah perguruan tinggi merupakan salah satu komunitas intelektual yang akan selalu menjalin komunikasi dan kerja sama antarbangsa dengan institusi pendidikan luar negeri, misalnya, dalam melakukan riset bersama, lokakarya, atau konferensi.
"Karena itu, jangan sampai hubungan antarkomunitas intelektual yang sudah terjalin baik dengan negara-negara lain rusak, dengan menolak mahasiswa asal negara tertentu, misalnya Malaysia, untuk menimba ilmu," kata dia yang juga mantan Rektor Universitas Diponegoro (Undip) tersebut.
Sebab, kata dia, apabila penolakan tersebut nantinya dibalas penolakan serupa dari perguruan tinggi di Malaysia akan sangat merugikan, terutama bagi para mahasiswa yang sebenarnya tidak ikut melakukan kesalahan, namun harus menanggung akibatnya.
"Terlebih lagi, masih banyak mahasiswa Indonesia yang saat ini tengah menuntut ilmu di Malaysia, mereka pasti akan menanggung dampak yang merugikan dari sikap yang diambil tersebut," katanya.
Disinggung tentang langkah Universitas Diponegoro Semarang yang memutuskan untuk menolak mahasiswa Malaysia, ia mengatakan, Undip sebagai salah satu komunitas intelektual seharusnya tidak bersikap emosional seperti itu. "Karena, apa yang dilakukan pemerintah Malaysia dengan mengklaim berbagai kebudayaan yang berasal dari Indonesia, tidak berhubungan dengan tugas belajar para mahasiswa Malaysia di indonesia," kata pengurus Forum Rektor Indonesia (FRI) tersebut.
Menurut dia, sikap yang diambil Undip tersebut di satu sisi memang dapat dimaklumi karena merupakan sebuah perwujudan kepedulian terhadap aset bangsa yang dilecehkan Malaysia, namun sikap itu harus dibicarakan dalam Rapat Senat Undip terlebih dahulu.
Selain itu, kata dia, keputusan tersebut seharusnya juga dibicarakan dengan sesama komunitas intelektual (perguruan tinggi) lain di Indonesia, agar penyikapan terhadap kasus tersebut tidak terkesan sepihak dan hanya dilakukan Undip.
Ia menjelaskan, langkah yang diambil juga tidak perlu terlalu frontal dengan menolak mahasiswa Malaysia, tetapi dapat dilakukan dengan pembatasan jumlah mahasiswa Malaysia yang akan belajar di Indonesia. "Saya pernah melakukan itu saat menjadi Rektor, ketika Malaysia menginginkan setiap tahun ada 20 mahasiswa yang belajar di Fakultas Kedokteran, namun lewat Rapat Senat Undip akhirnya dibatasi hanya menjadi dua orang per tahun," kata Eko Budihardjo. (Ant/OL-03)
|
posted by Harmailis Chaniago @ 9:27 AM   |
|
|
|
| 06 August 2009 |
| In Memoriam |
Saya peroleh dari Luknanto@ugm,ac.id :-), dua anak manusia yang dibesarkan dan ditenggelamkan oleh dunia gemerlap multimedia. 
|
posted by Harmailis Chaniago @ 10:08 AM   |
|
|
|
| 09 May 2009 |
| Di Depan Mesjid Bayur |
|
posted by Harmailis Chaniago @ 3:47 PM   |
|
|
|
|
|